Mungkinkah ini yang dinamakan Cinta Karena Allah
Bismilah...
Mulai Hari ini aku mencoba untuk mengkisahkan apa yang sedang aku rasakan, kisah nyata yang cukup membuat aku agak murung akhir-akhir ini,,seperti biasa aku hanya ingin mengekspresikan melalui tulisan, mungkin akan meringankan.
" Saat itu aku dan calon suamiku mengunjungi ayah kandungku, meminta restu dan sudah seharusnya mengundang untuk dijadikan wali(aku tak bisa menahan rintikan airmata). Ya saat itu juga beliau mengingatku sebagai iin, entahlah siapa yang beliau maksud katanya dia orang bogor. Kami pun mengunjungi karena kabar kondisinya yang mulai menurun alias lemes walaupun ketika kesana beliau bilang " sudah mendingan", sebagai anaknya aku hanya menebak beliau tak ingin membuatku khawatir namun beliau pun menginginkan untuk ikut bersama kami. Kadang aku berandai kalau waktu itu langsung memenuhi keinginannya yang masuk akal seperti ingin makan abon, sarden dan saos. Pasti kenangan itu tentang ibuku dan keinginan untuk ikut pulang ke Kuningan. Beliau menanyakan bu haji (Almh. Ibu dari ibuku) ketika aku beri tahu, beliau seperti merasakan penyesalan.(entah..rasa bersalah karena terlalu lama tak bertemu atau apalah)aku merasa begitu.. adapun keinginan yang sepertinya tidak memungkinkan terjadi di dunia, yakni bertemu dengan someone... Terlihat dari ekspresi wajahnya, beliau sangat penuh pengharapan.(hanya satu sepertinya yang membuat kondisinya agak melemah dan sejujurnya beliau merasa terbebani alias berat) bukannya aku menyalahkan namun yang sudah terjadi sudah pasti takdir (kehendakNya). Ya..saat itu beliau seperti mengungkapkan perasaannya dan benar2 lebih banyak bercerita bahkan bertanya2. Beliau menanyakan kepada calon suamiku " mimpi apa?kalian.. " pertanyaan yang membinggungkan.. tapi beliau meneruskan untuk memberi tahu kalau beliau mimpi sedang makan bersama someone ehh..pas bangun ternyata cuma mimpi. (Begitulah...)
Doaku selalu untukmu, alm. abi Hanata Wahyudin Santoso
Sudah larut...
Komentar
Posting Komentar