FIRST INTERVIEW “SORRY DAD!”
Setelah
Laura sudah membuka identitas dirinya, Laura merasa kurang bebas menceritakan
kisah yang sebenarnya terjadi pada Laura karena berubahnya sebutan Laura
menjadi aku. Tetapi aku akan mencoba walaupun terasa sangat kaku
menceritakannya. Hal yang ingin aku ceritakan masih tentang menemukan pekerjaan
dengan penghasilan mapan dan halal itu bagian yang tercantum pada balik pintu
dimana pintu itu menuju ke sebuah kamar, ya ada 2 pintu di dalam kamar yang aku
tempati. Pintu pertama keluar menuju dapur dan pintu kedua masuk ke kamar yang
dulu disinggahi almh nenekku dari umi. Aku merasa sangat nyaman jika berada di
kamar ini, karena disinilah berjuta-juta ide dan inspirasi bermunculan begitu kreatif
dan saking kreatifnya sering kali kamarku selalu terkenal paling berantakan
diantara kamar-kamar yang ada di rumah almh nenekku ini. Entah sampai kapan aku
akan terus tinggal di kamar ini? Kamar ini benar-benar menjadi saksi
kehidupanku hampir 15 tahun dan sisanya di kota kelahiranku. Ya kembali ke
pintu kedua, seperti biasa aku selalu menempelkan sebuah catatan pencapaian
yang saat ini ingin aku raih dan disitulah tertulis dengan spidol merah beralas
kertas A4 yang dijadikan 2 lipatan yakni “Januari 2017 BEKERJA DI SALAH SATU
BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) BERPENGHASILAN MAPAN DAN HALAL (dibatasi oleh
garis) SEMANGAT FAUZIYAH SHORFINA, S.KOM!!! JNG LUPA BERDOA!!(dibatasi oleh
garis)” pada pojokan garis atas tergambar emoticon senyum sambil mengangkat
kedua tangannya dan berkata “Aamiin…”
Kemudian
setelah berkali-kali melirik ke arah tulisan tersebut, aku selalu mengingat
bulan pada kalender dan alhamdulillah masih januari walaupun aku belum tahu
kapan tanggal yang pasnya namun alhamdulillah setelah tak terasa menunggu kabar
dari salah satu bank milik negara. Sebenarnya aku tidak menunggu sama sekali
kabar kelanjutan dari hasil tes psikotes yang diadakan di Bandung tepatnya
tanggal 16 desember 2016 karena aku sudah merasa pesimis dengan tes yang aku kerjakan
saat itu apalagi ketika tes kraeplin pauli aku
benar-benar merasa stress sekali mengisinya walaupun aku pernah merasakan
sebelumnya, sudah lama sekali ketika lulus masa SMA tepatnya tahun 2012 di
salah satu bank swasta yang paling terkemuka. Dan masih sama walaupun cara
pengerjaannya dibedakan dulu dimulai dari atas perhitungannya dan saat akhir
tahun 2016 dimulai dari bawah. Sebenarnya yang membuat aku merasa strees adalah
ketika yang lain sudah lebih cepat perhitungannya dan aku masih pas-pasan dalam
berhitung tetapi aku menyukai teka-teki dari sebuah rumus yang ada pada
matematika walaupun matematika pernah membuat aku patah hati ketika yang dinilai
hanyalah ketepatan hasil bukan proses pengerjaannya(statistika). Nah… ketika
itu aku sedang merasakan jenuhnya menemukan pekerjaan dan juga sudah banyak
meng-apply lamaran via email atau website resminya. Tepat hari Rabu tanggal 18
januari 2017 Karena merasa jenuh dengan kesehariannya di rumah maka aku berniat
untuk mengunjungi rumah temanku yang berada di daerah Windujanten, Kuningan.
Sebenarnya niat awalku adalah untuk melunasi uang yang aku pinjam dan berencana
membuat surat lamaran, walaupun disana aku malah asik menonton lanjutan drama
korea yang sedang aku tonton hihihii.. waktu pun semakin tak terasa tiba-tiba
ada pesan masuk pada ponselku, awalnya aku mengira bahwa itu adalah pesan dari
provider yang aku gunakan namun ternyata itu adalah pesan panggilan untuk
wawancara di BRI Kuningan, saat aku membaca pesannya sempat membuat aku tak
menyangkanya. Mungkinkah ini jawaban yang terbaik? Seharusnya aku langsung
membalas pesannya dengan menuliskan nama lengkap : Fauziyah Shorfina karena tak
memiliki pulsa untuk mengirimkan balasannya akhirnya beberapa menit kemudian
ponselku berdering dengan panggilan nomer telepon dari Bandung, tak lama aku
langsung mengangkatnya dan menjawab kepastian untuk hadir dalam wawancara esok
hari jam 08.30 WIB di Bank Rakyat Indonesia Kuningan. Alhamdulillah waktu itu
aku sudah berada di Kuningan. Walaupun aku agak kesal ketika sepulang dari
rumah temanku karena sopir angkot yang aku naiki mengendarai dengan ugal-ugalan
dan juga tidak mengantarkan sampai tujuan malah diputarkan hingga menunggu
disuruh pindah ke angkot lain. Aku pun turun dengan terburu-buru dan langsung
jalan tak menuruti ketika disuruh pindah ke angkot lain, batinku benar-benar
merasa kesal sekali. Dan malam itu aku hanya mempersiapkan diri dimulai dari
kostum yang harus digunakan (hitam putih dengan blazer) hingga materi yang
pernah aku tulis tentang perbankan. Keesokan harinya aku terbangun di pagi hari
yang cerah, dengan penuh semangat walaupun aku masih merasa tak berharap namun
hanya ungkapan dalam hati “hasilnya diserahkan kepadaMu Ya Allah”. Pagi itu aku
berniat untuk tetap berpuasa dan berangkat sekitar pukul 08.00 WIB karena jarak
rumah yang aku tinggali dengan BRI lumayan dekat jadi aku cukup berjalan kaki.
Para calon pegawai sudah mulai berkumpul di depan BRI, dan seperti biasa aku
selalu mendapat kenalan baru bahkan sambil menunggu kami malah saling bercerita
seputar pengalaman walaupun ada teman satu kampus bahkan satu kelas itu tidak
membuatku untuk mendapat kawan baru. Karena aku senang berkawan dengan siapa
saja apalagi kawan yang akan menjadi semangat baru untuk menuju kesuksesan.
(Aamiin…) sekitar satu jam kami menunggu di luar BRI akhirnya kami
dipersilahkan masuk oleh salah satu satpam yang sedang berjaga karena aku
mampir dulu ke pos satpam untuk menitipkan berkas yang tidak seharusnya aku
bawa jadi aku mengisi absen diatas 30 dari 54 calon pegawai BRI sedangkan kawan
baruku sudah lebih awal dibawah angka 10 dan untuk prosedurnya 18 orang yang
terpanggil lebih awal melakukan wawancara untuk sisa dipersilah menunggu di
lantai dasar termasuk aku. Dari 18 orang tersebut dibagi menjadi 2 yakni
wawancara di lantai 2 dan di lantai 3 paling atas (ketika absen). Setelah
menunggu hampir satu jam akhirnya kami kloter lantai dasar dipersilahkan menuju
lantai 3 untuk pengukuran berat badan dan tinggi badan. Ketika aku mendapat
giliran sempat kaget ketika melihat angka pada timbangan yang hasilnya 50 kg,
kaget yang aku maksud adalah tidak menyangka berat badanku naik walaupun hanya
sekitar 2 kg tapi itu membuat aku tersenyum senang. Selanjutnya kloter kami
dipersilahkan untuk menunggu giliran wawancara di lantai 2 walaupun sempat
terpotong istirahat, karena aku sedang menjalankan ibadah puasa akhirnya aku
hanya menuju ke masjid syairul islam, salah satu masjid besar di kota Kuningan
dan hanya menyebrang sekali untuk sampai ke masjid tersebut. Sambil menunggu
adzan dzuhur, aku menyempatkan untuk sejenak tiduran (rebahan) di sudut masjid.
Ya sendiri bukan berarti aku tak mengajak atau diajak temanku hanya saja
kebanyakan mereka berencana untuk makan siang jadi lebih baik aku langsung
menuju masjid. Setelah itu menuju ke lantai 2 walaupun cukup lama menunggu giliran
akhirnya sekitar jam 3 sore, aku dan 2 calon pegawai mendapat giliran wawancara
pertama dengan 3 pewawancara. Ya… karena aku duduk paling ujung jauh dari pintu
masuk jadi aku mendapat giliran pertama untuk memulai memperkenalkan diri dan
memberikan penjelasan terkait motivasi bekerja di Bank ini. Dan saat itu aku
merasa sedang seperti tes wawancara ketika mengikuti tes assisten laboratorium
juga seperti sedang sidang skripsi. Namun hal yang tak terlupakan dan membuat
aku ingin menuliskan pengalaman wawancara ini adalah tentang pertanyaan
identitas pekerjaan ayahku, kejujuran itu membuat aku agak menahan tangis dan
cukup membuyarkanku dalam menjawab pertanyaan selanjutnya karena aku merasa
belum mampu menjadi anak yang berbakti dan membanggakan kedua orangtuaku.
Kadang ada saatnya keberadaan bahkan keadaan orang tuaku terungkap walaupun
suasana di ruangan itu menjadi agak berubah (mungkin jadi canggung ketika sudah
berakhir). Ya begitulah kenyataannya sepahit obat yang menyembuhkan orang
sakit, segala sesuatu yang terjadi memang di luar kendali manusia alias hanya
kehendak yang Maha Kuasa. Walau sejujurnya aku tak ingin mengungkapkannya bukan
berarti aku menyesal hanya saja aku tak ingin dikasihani dengan alasan
identitas ayahku, aku hanya ingin diterima sesuai dengan kemampuan yang aku
miliki (murni hasil usahaku agar penuh berkah dalam menjemput rezeki dan juga
karena ridhoMu Ya Rabb) selanjutnya menuju lantai 3 kembali menunggu giliran wawancara
kedua dengan 2 pewawancara. Waktu itu terpotong oleh bada ashar dan juga sampai
bada magrib untuk menunggu giliran, alhamdulillah masih ada kardus air mineral
gelas untuk berbuka puasa ya aku mengambil segelas air mineral untuk
membatalkannya dilanjutkan ibadah shalat magrib. Menyisakan 13 orang lagi untuk
diwawancara dan kami mendapatkan jatah makan malam yakni sekotak nasi uduk ayam
kampung. Nikmatnya rezeki anak sholeh… akhirnya sekitar pukul jam 8 malam aku
dan 3 orang calon pegwai perempuan terakhir masuk ke ruangan wawancara (mungkin
karena rumah kami masih di daerah Kuningan) dan alhamdulillah wawancara yang
kedua tidak banyak menjawab pertanyaan namun ada kalimat yang membuat
pewawancara gagal paham tentang alasanku ingin bergabung di bank BRI ini.
Entahlah efek terlalu bersemangat atau sudah terlalu larut malam… namun pada
sesi ini lebih bercerita tentang komitmen (pernikahan, penempatan,
resiko-resiko lainnya yang membuat kami tak bisa menjawab namun kami pada
akhirnya harus SIAP!!!). dan walaupun rumahku dekat (ke rumah umi) namun teman
satu wawancara (1 dan 2 ) menawarkanku untuk bareng diantarkan ke rumah ya tak
terasa sudah jam 9 malam dan benar-benar full seharian. “Akhir kata biarkan
hasilnya yang terbaik dan jangan lupa berdoa!”
Komentar
Posting Komentar